Tuesday, July 3, 2012

Fans itu... Mendukung? Atau mencintai?


Fans itu... Mendukung? Atau mencintai?

Nah lho! Saya terjebak oleh kalimat ini. Ekspektasi saya sih, namanya fans itu adalah seseorang yang mendukung dan mencintai idolanya. Artinya dua dari faktor yang saya sebutkan tadi, itulah fans. Masalahnya saya disini hanya melakukan satu hal saja: mencintai. Mungkin melakukan tindakan yang pertama (mendukung) masih mending. Secara ada timbal balik untuk kesuksesan idola kita juga. 

Mendukung tapi tidak mencintai? Saya rasa tidak apa-apa jika dilihat secara lahiriah, material. Karena kita fans yang mendukung idola kita. Entah itu dengan membeli albumnya sebanyak-banyaknya, membeli apapun stuffs yang berhubungan dengan idola kita. Meski tidak ada kekuatan cinta antara idola dan fansnya.

Bagaimana mencintai tapi tidak mendukung? Ini yang namanya masalah. Ibarat gini aja, kita berdoa terus-terusan tanpa berusaha, apa ngefek? Ya nggak lah! Atau kadang jika kita meminta bantuan pada teman, sementara teman kita hanya berkata “dibantu dengan doa”, maksud lo? Sama dengan lo gak ngelakuin apa-apa buat temen lo! Beginilah. Fans kayak gini tuh ya begini. Tidak melakukan apa-apa untuk idolanya. Hanya mencintai. Mencintai. MENCINTAI. Meski saya tidak benar-benar merendahkan arti cinta itu sendiri. Hanya saja, sebagai fans HARUSNYA saya melakukan suatu hal yang lebih realistis daripada mencintai idola yang notabene sifatnya abstrak. Harusnya seorang fans membeli album asli sang idola dibanding mendownload dari sana-sini meski mati-matian mencarinya. Membeli benda-benda yang berhubungan dengan sang idola daripada koar-koar kesana kemari bilang, “Hei, gue fans beratnya si anu lho! Lihat nih, gue punya semua lagunya (dapet download ilegal).” Kagak malu apa lu, Tsu?
Well, biarkan saya melakukan pembelaan. Sebagai seorang fans yang ehm, miskin, apa sih yang bisa saya lakukan untuk MENDUKUNG? Mungkin kesempatan untuk mendukung itu ada ketika misal ada sebuah event voting lewat internet. It makes sense. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh seorang fans yang bermodal beli album dari situs web. Dan ilegal.
Karena itu semua, mulai sekarang saya gak bakal koar-koar menjadi fans untuk idola apapun. Toh saya merasa tidak pernah mendukung mereka. Satu album mereka pun saya gak punya. Jadi semisal kalo ada yang nanya, “Lo fans AKB ya?” “Ah, bukan fans. Cuma suka.” “ Tapi kok lu punya banyak banget file-file tentang AKB? Tau banyak member-membernya, bahkan pernah mewek gara-gara mereka.”“Haha, namanya juga suka *poker face*” Menyedihkan. Memang. Padahal dalam hati saya koar-koar, “GUE CINTA MEREKA! GUE CINTA MEREKA! GUE CINTA MEREKA! Tapi gue gak pernah beli barang original mereka....”
Kalo udah kayak gini, ada tiga hal yang kemudian dijadikan kambing hitam. Lu tau apa yang gue maksud. Satu, uang. Dua, duit. Tiga, money. Seharusnya judul postingan ini “Ratapan Anak Miskin”. Mungkin akan berbeda ceritanya jika saya dilahirkan jadi anak konglomerat. Bisa beli album sebanyak yang saya mau dan saya bagi-bagiin buat fans yang tidak mampu semacam si Tsu. Tapi demi Tuhan, saya tidak menyesali dan menyalahkan takdir kok.
Kayak lirik lagunya Peterpan nih, “Apa yang terjadi, terjadilah!” Mau gimana lagi? Selama saya masih bisa download dari web, saya tetap bisa menikmati hasil karya mereka. Meski itu ilegal. Yang penting saya masih hidup, mereka masih hidup. Dunia pun damai.

No comments:

Post a Comment