Thursday, May 16, 2013

Sayonara Crawl (an AKB48 fanfic) - Chapter 2 "Oshiri Sister"


Title: Sayonara Crawl
Author: Tsu
Genre: Thriller, Family
Rate: T
Cast: half of 31st single’s senbatsu
Disclaimer:AKB48, their family, and of course themselves.



Ch. 1 - Ch. 2

Chapter 2 – Oshiri Sister
---

Mayu menaikkan telapak tangannya. Menghalau sinar matahari yang lurus membasuh wajahnya. Tadi pagi sudah pakai sunblock belum ya? Mayu harus merawat kulit biar sehat seperti Yuuko. Oh, Mayu sungguh mengagumi Yuuko. Yuuko yang periang, yang kulitnya seceria wajahnya.

Memang enak mempunyai tempat tinggal di Okinawa. Pinggir pantai pula. Mau main sama ombak sampai mabok, silakan. Mau bikin istana pasir sampai mahir, boleh. Mau berjemur sambil makan rebus telur juga boleh. Anggap saja sauna.

Hari ini Yuuko memakai two piece warna merah. Kontras dengan warna kulitnya yang lebih cerah dari kapas. Mayu juga ingin mengenakan yang warna merah. Tapi Yuuko menyarankan oranye saja. Biar balapan sama matahari, katanya. Apapun itu, Mayu setuju. Karena Mayu sayang Yuuko. Sister complex.

Nee-chan... mau es krim?” tawar Mayu sebelum dia beranjak pergi menuju kedai minuman terdekat.

“Terserah kau saja,” ujar Yuuko. Berbaring di atas pasir beralaskan handuk.

Mayu berlalu sambil mengacungkan jempol.

“Dia selalu bersemangat. Aku jadi ingin punya adik,” seorang gadis yang berbaring juga di samping Yuuko berkomentar. Mulutnya sibuk mengunyah permen karet.

“Aku bersedia membaginya denganmu,” kelakar Yuuko.

“Permen karet saja tak boleh dibagi.”

“Adikku bukan permen karet. Permen karet itu adikmu.”

“Mana ada adik yang harus kubeli dulu di minimarket.”

“Tomochin!” Yuuko tergelak. Tapi gadis di sampingnya—yang dipanggil “Tomochin”—tetap fokus dengan kunyahan demi kunyahan yang berproduksi di mulutnya.

“Bagaimana kabar Shinji?” tanya Tomochin berbasa-basi.

“Dia tetap lelaki paling tampan di lantai dua; lelaki paling lucu di lantai dua; dan lelaki paling jantan di lantai dua.”

“Kau terlalu berlebihan, Yuuko.”

Mayu kembali. Dengan dua cone es krim di tangan. Mendapati kakaknya sedang asyik bergurau dengan penghuni apartemen sebelah.

“Ini dia.” Mayu menyerahkan satu ke tangan Yuuko. “Tidak ada untukmu,” ujarnya tegas pada Tomochin.

“Lagipula aku tidak mau,” elak Tomochin.

Mayu mengambil tempat di samping Yuuko. Menonton ombak berdebur diiringi liukan para peselancar. Hingga berseru “oshiri!” ketika para gadis lewat di depan mereka.

“Yang itu lebih besar dari melon!” seru Yuuko mengomentari salah satu pantat milik gadis yang lewat.

“Di sebelahnya mirip jeruk. Kecil tapi nampak kenyal,” timpal Mayu menyipitkan matanya.

“Lihat! Lihat yang sebelah pinggir! Hampir mirip dengan semangka kecil yang dijual di toko Paman Takashi.”

“Ahahaha, kau benar, Nee-chan!”

“Hihihi. Oshiri!” seru Yuuko. Kedua tangannya ia buka dan membentuk pantat.

Oshiri!” Mayu mengikuti apa yang dilakukan Yuuko. Keduanya tertawa hebat.

Tomochin geleng-geleng kepala sambil kunyah-kunyah permen karet.
.
.
.

Angin sore musim panas masih terasa cukup membakar. Membelai tungkai kaki Mayu yang sedang berjalan menyusuri pantai. Telapak kakinya membelah pasir, tersapu ombak. Keringat dan air mata yang tadi membasahi wajahnya kering sudah dijamah sang bayu. Tongkat bisbol besi yang telah ia cuci diseretnya ikut membelah pasir, tersapu ombak. Sebentar lagi malam. Ia harus sudah sampai di kamar Yuuko, di rumah sakit. Ia tak mau membuat kakaknya khawatir mencarinya karena ia tak ada di samping ranjang, menunggui seseorang yang tak sadarkan diri.

Mayu hampir tiba di pantai yang ramai. Disambut seorang gadis yang sedang mengunyah permen karet.

“Mau semangka?” tawar Mayu.

“Aku sedang makan permen karet rasa semangka,” timpal Tomochin.

“Sayang sekali. Padahal aku sudah membelahnya untukmu,” gerutu Mayu dengan nada kecewa, “Tongkat ini bagus. Sekali pukul langsung pecah semangkanya.”

Tomochin mengernyitkan kening. Mulutnya terbuka lebar. Kalau permen karetnya punya kaki sudah lompatlah ia ke atas hamparan pasir.

“Jangan bilang...”

“Sudah aku lemparkan ke laut.” Dingin. Air muka Mayu lebih dingin dari udara dini hari.

Tomochin memutar bola matanya. Kembali bersikap acuh tak acuh. Kembali mengunyah permen karet yang batal melompat ke atas pasir. “Aku tak tahu kalau kau serius soal memberinya pelajaran,” ia menyeret kakinya menuju pantai yang ramai.

“Aku tak pernah main-main jika itu menyangkut kakakku,” Mayu mengekor sambil menyeret tongkat bisbol. “Terimakasih, sudah membantuku.”

Tomochin mengangguk pelan. Pikirannya masih berputar-putar. Baru saja telah terjadi pembunuhan. Dan ia terlibat di dalamnya. Mayu sudah kehilangan akal warasnya. Gila! Lebih dari gila. Ia sangka, yang diutarakan oleh Mayu soal memberi Haruna pelajaran itu hanya memukulinya sampai puas. Berapa kalipun. Sampai kemarahannya menguap dan hilang. Tapi ia salah besar. Mayu hanya memukul Haruna sekali. Sekaligus merenggut nyawa gadis rambut panjang itu.

---

Sekuntum bunga lili putih sengaja dipajang Mayu di atas meja di samping ranjang Yuuko. Betapa bunga yang anggun dan suci, terlepas dari bunga tersebut adalah simbol kematian. Mayu meraih telapak tangan Yuuko. Menciumnya. Memeluknya penuh kasih.

“Aku sudah melenyapkan ‘kebencian’. Sekarang apa lagi yang harus aku basmi dari dunia ini?” bisiknya.

Yuuko bergeming. Hanya suara mesin dan tampilan detak jantung yang bisa Mayu lihat.

“Aku telah memberikan satu nyawa untuk menghalangi kematianmu. Bangunlah, Nee-chan!” pinta Mayu.

“Apakah tidak cukup? Berapa nyawa lagi yang kau perlukan? Tuhan, berapa nyawa lagi yang harus aku tukar demi kesembuhan kakakku?”

Tomochin mengawasi dari pintu. “Masih belum puas?” tebaknya. Mulutnya bergoyang-goyang mengunyah permen karet.

Mayu menoleh, “Nee-chin!” serunya. “Apa yang harus aku lakukan? Kenapa kakakku tidak bergerak? Kenapa matanya belum terbuka?”

Tomochin menghela nafas. Kasihan Mayu. Gadis itu tak pernah tersenyum sejak Yuuko kehilangan senyumnya.Apa yang harus Tomo lakukan sekarang? Masuk ke dalam permainan Mayu dan memburu orang-orang yang mempunyai masalah dengan Yuuko? Membunuh mereka?

Sepersekian menit kemudian, Mayu mendekat. Menggenggam pergelangan tangan Tomochin kuat-kuat, “Beritahu aku, siapa selanjutnya?”

“Tidak. Aku tak mau terlibat lebih jauh lagi.” Cukup tragedi yang menimpa Haruna saja.

Nee-chin, onegai!” Mayu tak putus asa meminta.

“Aku sudah membius Haruna. Aku sudah membawanya ke tempat bekas pos jaga pantai. Aku sudah cukup,” terang Tomochin. Tegas menghempaskan genggaman tangan Mayu.

Menyerah. Beringsut. Kembali memeluk tangan Yuuko. Mayu bersenandung. Ia akan melakukannya walaupun sendirian. Tak bisa ia membiarkan orang-orang yang pernah menyakiti kakaknya hidup penuh tawa sementara kakaknya menderita menanti ajal.
.
.
.

Setiap Sabtu sore, Shinji tak pernah absen mengajak Yuuko pergi ke lapangan sepak bola yang berada di samping kantor. Menonton pertandingan di sana atau sekedar melihat-lihat tim kebanggaan kota itu berlatih. Yuuko tak mengerti. Kenapa ia mau saja. Tentu karena Yuuko sangat menyukainya, lelaki lantai dua itu. Setiap sore berharap lelaki itu akan mengutarakan perasaannya, mengajaknya menjadi pasangannya. Tapi setiap sore pula berlalu tanpa hal itu terjadi.

Masa bodoh. Sekarang semua orang tahu kalau di sana ada Shinji, maka di sana pula ada Yuuko. Mereka berdua telah lebih erat bak ditempel lem super. Siapa yang peduli tentang status mereka? Yang penting mereka bersama-sama.

Suatu sore ketika mereka sedang duduk berdua di kursi penonton, datanglah seorang gadis menghampiri.

“Setiap sore aku selalu melihat kalian di sini,” ujarnya.

“Setiap sore kami selalu ke sini,” Shinji menjelaskan.

Yuuko tak suka Shinji berbicara dengan perempuan lain. Yuuko tak suka Shinji tersenyum pada perempuan lain. Shinji akan segera menjadi miliknya. Tak boleh ada seseorang pun menghalangi jalan itu.

Beberapa sore berikutnya, gadis itu sudah akrab dengan Shinji dan Yuuko. Duduk bersama menonton lapangan. Sudut mata Yuuko selalu awas memperhatikan mereka berdua. Tak boleh ada tindakan yang tak diinginkan. Gadis itu sudah terlalu dekat dengan Shinji. Yuuko tak berniat beramah-tamah dengannya. Ia sudah kapok membuka hubungan pertemanan dengan perempuan setelah Haruna meninggalkannya.

Mimpi buruk datang ketika satu sore Yuuko tak bisa menemani Shinji pergi ke lapangan. Ada pekerjaan yang mau tak mau harus ia lemburkan. Bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Shinji dengan perempuan di lapangan itu. Pekerjaan pun tak mampu ia selesaikan karena memikirkan hal itu. Yang ia inginkan sekarang adalah berlari ke lapangan bola. Memastikan tak terjadi apa-apa, tak terjadi suatu hal yang tak diinginkan.

Sore berikutnya mereka bertiga kembali bertemu di lapangan.

“Aku mau beli minuman kaleng. Watashima-san, kau mau apa?” tanya Shinji seraya bangkit dari duduknya.

“Susu teh hijau,” jawab Yuuko dengan senyumnya yang paling manis.

“Oke. Yuki-chan, kau mau apa?” Shinji bertanya pada gadis di sebelah Yuuko.

Eeeh. Mata Yuuko membelalak. Shinji memanggil nama kecil perempuan itu? Apa yang telah terjadi dalam satu sore kemarin? Yuuko dekat dengan Shinji sudah lebih dari dua bulan, tapi hingga sekarang tak pernah sekalipun Shinji memanggil nama kecilnya. Tapi, tapi perempuan ini... apa yang dia lakukan hingga Shinji dekat sekali dengannya? Apa yang aku lewatkan satu hari kemarin?!

Hanya tinggal menunggu waktu sampai Shinji benar-benar menjadi lengket dengan Yuki. Yuuko benar-benar tertohok. Seharusnya Shinji sudah menjadi kekasihnya. Tapi karena kehadiran Yuki, semuanya tak berjalan sesuai rencana.

“Ada orang yang kusukai,” siang itu, di kafetaria, Shinji membuka percakapan.

Muka Yuuko seketika memerah. Tersipu. Pasti inilah saat yang ia tunggu-tunggu. “Benarkah?”

Shinji mengangguk. Menatap Yuuko dalam-dalam. “Dia... seorang manajer.”

Aha! Apa lagi yang kau tunggu, Shinji? Segeralah ungkapkan perasaanmu pada manajer yang ada di depanmu.

Yuuko menunggu dalam cemas. Semua aktivitas di kafetaria rasanya berhenti. Semua terdiam kecuali detak jantung Yuuko yang semakin cepat.

“Watashima-san, aku menyukai Yuki...”

Dahsyat. Lebih hebat dari meteor. Yuuko termangu di tempat duduknya. Melihat wajah Shinji yang memerah. Bukan karena dirinya. Bukan tersipu karenanya. Oh, Yuuko lupa. Yuki itu juga manajer. Manajer tim sepak bola.

“Kau mau membantuku? Sore nanti. Aku akan berbicara padanya.”
.
.
.

“Yuki Kashiwagi namanya,” Tomochin mengambil selembar permen karet rasa semangka dan memasukkannya ke mulut.

Roger.”

Tomo menatap Mayu, meminta penjelasan, “Apa yang akan kau lakukan?”

Mayu balik menatap Tomo,  “Tentu saja memindahkan rasa sakit kakakku.”

“Jangan bertindak terlalu jauh!” Tomo berusaha mencegah.

“Aku tidak minta bantuanmu lagi, Nee-chin. Aku akan mengerjakannya sendirian.” Betapa teguhnya tekad gadis itu. Melakukan hal yang sia-sia, yang tak akan sedikitpun mengubah Yuuko. Hanya akan memperburuk keadaan.

“Aku tidak ikut-ikutan,” Tomo mengacungkan kedua tangannya.

“Aku tidak peduli.”

---

Lapangan sepak bola yang menyerupai stadion kecil itu sudah lengang. Pukul delapan lebih tiga puluh satu menit malam itu. Latihan baru saja berakhir. Yuki Kashiwagi, sang manajer, masih membereskan peralatan. Malam ini ia harus pulang sendiri. Kekasihnya, Shinji Kitagawa tak bisa datang menjemput karena ada urusan pekerjaan.

Yuki berdiri hendak pergi. Seorang gadis datang menyeret tongkat bisbol dan membawa kantong besar berisi semangka. Yuki menatapnya ingin tahu.

“Aa, kukira ini lapangan bisbol,” ucap Mayu. Bertingkah seolah ia anggota tim bisbol sekolah yang hendak merayakan kemenangan timnya dengan makan semangka.

“Kau berasal dari mana? Seingatku di sekitar sini tak ada lapangan bisbol,” Yuki bertanya dengan ramah.

“Umm, tidak. Aku memang jarang keluar rumah,” ujar Mayu. Menyimpan kantong besar yang ia bawa dan mengeluarkan isinya. “Mau semangka?”

“Eh, ah, tidak, terima kasih. Aku harus segera pulang,” di tengah rasa bingungnya, Yuki bergegas pergi. Sepertinya anak di hadapannya itu agak terganggu mentalnya.

“Tunggu, Kashiwagi-san!” seru Mayu. Mencegah Yuki untuk pergi.

Yuki berbalik dengan kening berkerut. “Kau... tahu namaku?”

“Aku mengetahui namamu. Aku tahu kau tak mengetahui namaku.”

Digiring rasa penasarannya, Yuki kembali. Mungkin saja dengan kebesaran hatinya, anak gadis ini mau pulang. Ia akan bantu membawakan dua buah semangka besar yang kini tergeletak di atas rerumputan lapangan sepak bola.

“Namaku Mayu Watashima,” dengan senyum, gadis itu memperkenalkan diri. Senyum palsu, tentu saja.

Wa-Watashima? Rasanya pernah dengar nama itu, Yuki berpikir.

“Tidak mungkin kau melupakan wanita yang selalu bersama lelaki yang sekarang menjadi kekasihmu. Wanita yang selalu duduk mesra dengan lelaki yang sekarang menjadi kekasihmu di bangku penonton. Wanita yang senyumnya perlahan hilang setelah kau masuk ke dalam lingkaran mereka berdua. Wanita yang mati-matian menahan perasaan ketika lelaki yang ia sukai ternyata lebih memilih wanita yang baru ia temui,” mata jenaka Mayu menghakimi Yuki.

Yuki jatuh terduduk. Pantatnya menghempas lapangan hijau. “Kau salah. Aku tidak seperti itu—merenggut Shinji dari Watashima.”

“Tentu saja kau telah melakukannya.”

Yuki berusaha berdiri, hendak berlari. Tapi Mayu terlanjur menginjak perutnya. Menekan ujung tongkat bisbol ke dadanya. Sesak.

Sekarang Mayu menduduki perutnya. Menonjok hidung Yuki hingga darah meluncur.

Yuki terdiam. Tak bisa melawan.

Pingsan.

To be next chapter

Thursday, May 9, 2013

Sayonara Crawl (an AKB48 fanfic) - Chapter 1 "Hatred"



Title: Sayonara Crawl
Author: Tsu
Genre: Thriller, Family
Rate: T
Cast: half of 31st single’s senbatsu
Disclaimer: AKB48, their family, and of course themselves.

[Trims, Heeshin, ini keren banget!]
Ch. 1 - Ch. 2
---
Chapter 1 – Hatred
---
Tiga puluh satu menit yang lalu, gadis bersurai panjang itu masih sibuk melayani pembeli di kafe. Di bibir pantai Okinawa yang ramai dikunjungi setiap musim panas datang. Tiga puluh satu menit setelahnya ia hanya bisa pasrah terbaring. Merasakan dingin dan lembabnya lantai kayu sebuah rumah yang nampak tak terawat. Rambut panjangnya nan indah kini tak ubah layaknya untaian benang kusut tak berguna. Terkoyak dan terpecah tak punya rupa.

“Sa-Sakit...” ia menggumam. Berharap setidaknya ada sepotong telinga yang mendengar.

Segaris cahaya matahari menyusup melalui celah kayu. Menyampaikan waktu yang tak bisa diketahui si gadis bersurai panjang yang kini tak bisa bergerak bebas oleh sebab simpul temali yang begitu kuat telah mengungkung tubuhnya. Masih siang, pikir gadis itu di tengah kekalutan dan ketakutan.

Siapakah yang tega menculiknya? Diakah lelaki yang setiap hari mengganggunya di kafe? Lelaki yang genit menepuk bokongnya itu? Atau lelaki yang hanya duduk diam sambil menyesap espresso dingin di sudut kafe? Diakah lelaki yang menyukai lemonade tanpa gula dan suka merayu sang pelayan kafe? Entahlah. Apapun yang mereka inginkan, asal jangan nyawa.

Gadis itu berguling. Berharap dengan begitu ikatan di tubuhnya akan melonggar dan lepas. Tapi si penculik tak sebodoh yang ia kira. Simpul itu tetap terpasang kuat seberapa gigih si gadis berguling mencoba. Hingga ia lelah sendiri.

Kalau tidak salah yang ditemuinya terakhir tadi adalah Tomochin, temannya semasa sekolah beberapa tahun silam. Tapi ia tidak ingat apapun setelah itu. Mungkin Tomo mencekokinya obat lupa. Entahlah.

Matanya yang sembab berair menyisir isi ruangan. Hampir kosong. Hanya kursi tua yang reot. Dan satu buah semangka yang ukurannya lebih besar dari kepala.

Pintu kayu lapuk berderit cengeng. Gadis itu memutar kepala mencari tahu siapa yang datang. Gesekan benda tumpul dan lantai kayu berdebur seru.

“To-Tolong...” pinta gadis itu memelas.

“Hm.” Adalah seorang perempuan dengan rambut ikat dua. Membawa tongkat bisbol di tangan kanannya. Senyum meretas di antara tajamnya garis wajah.

Gadis berambut panjang terpaku. Siapa perempuan yang baru datang ini? Sama sekali tidak ia kenal. Sekuat apapun berusaha mencari informasi dalam riuhnya brankas penyimpanan di jaringan otak, tetap tak ia temukan data mengenai perempuan dengan tongkat bisbol melukis permukaan lantai berdebu.

“Tolong lepaskan ikatan ini.” Masa bodoh dengan siapa gerangan gadis itu. Yang pasti ia hanya ingin segera terbebas dari kungkungan temali yang melilit tubuhnya.

“Untuk apa memancing ikan jika harus dilepaskan lagi? Untuk apa berburu kijang bila harus dibebaskan lagi?” perempuan dengan tongkat bisbol itu menyahut. Melempar pertanyaan yang membuat si gadis bersurai panjang bingung tak kepalang tanggung.

Gadis yang terikat termangu. Perlahan berusaha menangkap maksud dari pertanyaan yang dilontarkan si gadis tongkat bisbol. Beberapa jenak hening. Bunyi serangga musim panas terdengar dari balik bilik kayu. Musim panas yang normal. Setidaknya tiga puluh satu menit yang lalu. Tambah beberapa menit.

“Kojima-san, aku mengenalmu. Aku tahu kau tak mengenalku,” gadis tongkat bisbol berjongkok di hadapan gadis bersurai panjang yang ia panggil “Kojima”. Tongkat bisbol besi yang ia pegang tetap berada di tangan kanan.

“Apa maumu?” Haruna Kojima ingin mengusap butiran keringat yang mengalir deras di pelipisnya. Membasahi surai indahnya. Membuat kusam tampilan cerah wajahnya. Kini ia tak berharap gadis itu mau membuka ikatan di tubuhnya.

“Namaku Mayu. Mayu Watashima.” Akhirnya gadis tongkat bisbol itu memperkenalkan diri.

“Wa-Watashima kau bilang?!” Haruna menjadi sensitif mendengar nama itu. “Tidak mungkin kau-“

“Benar. Aku adiknya Yuuko Watashima,” Mayu memotong ucapan Haruna, “Dia sakit.” Seketika air mukanya berubah. Sendu. Seperti bocah kehilangan permen.

“Tentu saja kau masih ingat dirinya. Bagaimana bisa kau melupakan orang yang sangat kau benci dan orang yang sangat membencimu. Kalian saling membenci. Kurasa itu hubungan paling harmonis yang pernah ada,” papar Mayu, “Tapi sekarang dia sakit. Selamat untukmu, Kojima-san. Semua manusia pasti mengharapkan sesuatu yang buruk menimpa orang yang dibencinya.”

Haruna tak tahu apakah ia harus tertawa. Atau sedih. Menangis. Atau diam saja tak menunjukkan ekspresi apapun.

“Xerostamia,” tanpa diminta Mayu memberitahukan jenis penyakit yang menimpa kakaknya. “Oh, kasihan sekali kakakku. Kakakku yang paling kusayang.”

“Perlu kau ketahui, aku tidak sejahat itu. Aku tidak benar-benar membencinya. Percayalah padaku,” Haruna memelas. Menunjukkan mata berkilauan.

“Jangan memohon-mohon padaku, Kojima-san. Kau bersikap seolah kau peduli karena berharap aku akan melepaskanmu, ‘kan?! Jangan mimpi!”

“Aku tidak berbohong. Aku akan mengunjunginya di rumah sakit—jika kau bebaskan aku. Aku akan meminta maaf padanya atas segala yang telah kulakukan terhadapnya. Percayalah padaku, Mayu!”

“Siapa yang mengizinkanmu memanggil nama kecilku?” Mayu murka. “Tak ada yang bisa merubah keputusanku. Aku akan melakukan apapun demi kakakku. Termasuk jika itu harus menghilangkan nyawa seseorang.”

Haruna terkejut. Mata indahnya membulat takut sementara aliran keringat di wajahnya tak jua berhenti, malah semakin deras. “Tolong jangan lakukan itu!” pintanya.

Dulu, sebelum Haruna bekerja di kafe pinggir pantai, ia adalah seorang staf administrasi sebuah perusahaan periklanan. Bersama rekannya yang juga diterima bekerja di sana pada hari yang sama, Yuuko Watashima.
.
.
.

“Nyan-nyan!” begitulah panggilan kesayangan Yuuko untuk Haruna. Nama panggilan yang baru saja disahkan sendiri olehnya. “Makan siang?” tawar Yuuko mengulurkan tangan.

“Tentu,” Haruna menyambut uluran tangan itu riang. Mereka bergandengan menuju kafetaria.

“Kau tau lelaki jangkung yang ditempatkan di bagian HRD lantai dua?” Yuuko membuka percakapan.

“Mm-hm,” Haruna menggeleng sambil menyeruput sari apel.

“Itu lho, lelaki yang suka memakai dasi motif diagonal,” ujar Yuuko menggebu-gebu.

“Yuuko, itu motif umum. Semua orang punya.”

“Oh, ayolah, dia lelaki paling tampan di lantai dua.”

Haruna tak menanggapi lagi.

Esok harinya di tempat dan jam yang sama.

“Tadi aku bertemu dia di elevator,” Yuuko membuka percakapan, “Kau sudah bertemu dia hari ini?”

“Mm-hm,” Haruna menggeleng sambil menyeruput sari apel.

“Itu lho, lelaki yang suka memakai kemeja warna putih cerah,” ujar Yuuko menggebu-gebu.

“Yuuko, semua karyawan di kantor ini memakai kemeja putih. Termasuk kita.”

“Oh, ayolah, dia lelaki paling tampan di lantai dua.”

“Dan sialnya kau belum tahu namanya siapa.”

“Kau benar sekali, Nyan-nyan!” pekik Yuuko. “Apa kau mau mengatur pertemuan untukku dan dia?”

“Kamu saja tidak mengenal dia, apalagi aku.”

“Aku mengenalnya. Aku hanya tidak tahu namanya,” Yuuko membela diri.

Satu minggu kemudian di tempat dan jam yang sama.

“Aku sudah tahu namanya,”  Yuuko membuka percakapan, “Shinji Kitagawa.”

“Uh-huh,” komentar Haruna sambil menyeruput sari apel. “Kau hanya tahu namanya, cobalah untuk berkenalan langsung dan mengajaknya berbicara.”

Nice advice!” seru Yuuko, “Tapi... kau mau membantuku, ‘kan?!”

Haruna mengernyit, “Kau ini bagaimana, sih?!”

Satu bulan kemudian Yuuko dipromosikan naik jabatan menjadi manajer. Spontan saja Haruna tak terima. Ia dan Yuuko masuk kerja pada hari yang sama, mengerjakan semua hal yang sama. Mereka bahkan berteman dan makan siang bersama setiap hari. Apa alasan atasan untuk mempromosikan Yuuko dan bukan dia?! Dia bahkan lebih menarik dari Yuuko. Lebih cantik. Lebih tinggi. Lebih profesional. Lebih berkompeten.

Dengan senyum selebar-lebarnya, Yuuko menghampiri meja Haruna. “Wah, aku harus pindah meja. Maafin, ya, Nyan-nyan,” sahutnya tersenyum kecil. “Hari ini aku yang traktir, mak-“

“Selamat!” Haruna tak perlu mendengarkan ajakan Yuuko sampai selesai. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju toilet. Sekarang suara temannya itu membuat perut mulas.

“Sedang datang bulan?” tebak Yuuko dengan segala kepolosannya. Namun ia tak peduli. Yang harus dilakukannya sekarang adalah membereskan meja kerjanya di samping meja kerja Haruna dan segera berpindah seiring naiknya jabatan Yuuko.

Satu minggu berlalu. Sekarang bukan Haruna yang duduk satu meja dengan Yuuko di kafetaria. Melainkan Shinji. Lengkaplah kebahagiaan Yuuko. Karir meningkat, urusan asmara pun tak mengingkari. Yuuko tertawa riang mendengar kelakar Shinji. Selain lelaki paling tampan di lantai dua, ternyata dia juga lelaki paling lucu di lantai dua.

Haruna menatap keki dari meja lain di kafetaria. Sari apel yang dia minum tak mampu memperbaiki suasana hatinya yang semakin hari semakin keruh. Kenapa Shinji lebih tertarik pada Yuuko? Kenapa tidak pada dirinya? Pada Haruna yang tinggi dan menawan. Haruna yang bisa menjaga sikap seperti gadis bangsawan di meja makan. Haruna yang bisa menjaga kepribadian seanggun mungkin. Tak cukupkah gadis periang itu diberi jabatan tinggi oleh atasan? Jangan-jangan bos tidur dengan dia. Jangan-jangan Shinji tidur dengan dia pula. Dasar jalang! Lihatlah, kau cuma wanita murahan. Mudah sekali mendapatkan jabatan dan cinta dalam waktu yang berdekatan. Oh, lihatlah aku yang menjadi korban. Haruna yang malang.

“Nyan-nyan, sudah lama tak makan bareng,” sapa Yuuko ceria seperti beberapa pekan yang lalu. Ia mendesak masuk ke kubikel Haruna. Tak peduli pada jam kerja. Toh dia manajer.

Haruna terdiam. Tangannya sibuk menggerakkan mouse. Klik sana-sini sok sibuk. Biar perempuan jalang ini pergi. Tak usah mengajak bicara.

“Ayolah, kau harus menemaniku makan. Ada yang ingin kuceritakan,” Yuuko menggoyangkan bahu Haruna. Haruna masih bergeming. Sabar. Tahan.

“Ayolaaaah... aku ingin cerita tentang Shinji. Sepertinya dia mengambil satu langkah maju. Aku harus bagaimana?”

Tak ingin sekalipun Haruna berucap kata. Tak akan sedikitpun ia menjawab ajakan Yuuko. Kalau bisa, ia mau menutup kedua telinganya. Cukup dengan basa-basi tak berguna itu.

“Sudah seminggu ini dia mengantarku pulang. Dia menjemputku juga setiap pagi. Tak kusangka setelah predikat lelaki paling tampan di lantai dua dan lelaki paling lucu di lantai dua, sekarang bertambah lagi dengan lelaki paling jantan di lantai dua.” Yuuko bercerita tanpa diminta. Benar-benar mulut yang tak punya etika.

“Tapi dia masih belum mengatakannya. Kau tahu, tiga kata ajaib yang membuat semua perempuan terlena,” bisik Yuuko. Tak peduli jika telinga Haruna sudah panas mendengar omong kosong itu.

“Aku yakin tak akan lama lagi. Pasti waktu itu datang. Lalu-“

Haruna berdiri. Membuat Yuuko membisu. “Cukup. Aku tak tahan lagi. Aku membencimu, Watashima! Aku mau berhenti dari sini. Nikmati hidupmu. Aku sungguh tak tahan lagi,” dan ia berlalu menuju toilet.

Yuuko terpaku. Haruna memanggil nama keluarganya. Haruna marah. Marah sekali.

Yuuko masih terpaku di tempat ketika Haruna kembali.

“Nyan-nyan...”

“Aku sungguh, sungguh, sangat membencimu, Watashima Yuuko!”

Runtuh sudah pertahanan Yuuko. Air mata menganak sungai di pipinya. Menghapus wajah cerianya.
.
.
.

Bersama keringat, air mata mengaliri wajah cantik Haruna. Semakin deras. Tak kuasa ia usap. “Ini semua salahku...”

“Tentu saja. Kakakku depresi karena sikapmu, Kojima. Hingga perlahan-lahan penyakit itu datang dan merenggut senyum kakakku.” Mayu mengusap air mata yang meleleh di pipinya.

“Aku tidak... bermaksud menyakitinya. Aku hanya... tak suka akan perlakuannya padaku. Dia yang menyakitiku. Dia yang membuatku menderita. Aku yang seharusnya marah...”

PLAK. Jatuh saja tamparan itu di pipi Haruna.

“Kau masih berani menyalahkan kakakku? Kau berani menyalahkan orang yang hampir mati. Kau keji. Lebih dari iblis!” Mayu menangis sejadi-jadinya. Pun Haruna. Menangis sekuat-kuatnya. Entah karena bayangan masa lalu, atau karena takut gadis itu hendak membunuhnya saat ini. Atau dua-duanya.

Mereka terdiam dalam isak masing-masing. Hati perempuan itu rapuh. Hati perempuan itu sensitif. Tak bisa tersentil sedikit, air mata akan turun sukarela.

“Dengar, Kojima-san, kakakku akan pergi sebentar lagi. Aku tak punya pilihan. Sebelum dia yang pergi, aku ingin kau pergi lebih dulu.”

Bulu kuduk Haruna berdiri. Jangan! Ia tak mau mati. “Tidak!” Haruna meronta sekuat tenaga. Tak bisa hidupnya berakhir di sini dengan jalan seperti ini. Malang benar nasibnya. Disakiti sang kakak, sekarang mau dibunuh adiknya. Kemana Dewi Fortuna? Kenapa jalan takdirnya begini buruknya?

Mayu menutupi matanya dengan kain kecil yang sejak tadi tersimpan di saku. Ia memutar badannya sampai terasa pusing.

“A-Apa yang mau kau lakukan? Lepaskan aku! Lepaskaaan!” Haruna berontak sekuat tenaga yang tersisa. Sisa menangis.

“Tolong! Toloooong!” Sial sekali. Kenapa tak ada orang lewat? Apakah rumah reot ini berada di ujung dunia?

“Tolong! Siapapun tolong aku!” Haruna berteriak dengan sisa tenaga. Sisa menangis dan sisa berontak.

Mayu mengetuk-ketukkan tongkat besi yang ia pegang pada permukaan lantai kayu lapuk. Badannya bergoyang kanan-kiri. Pusing. Tadi berputar-putar.

“Watashima, dengarkan aku, tolong, lepaskan! Aku... akan minta maaf. Aku... akan melakukan apapun demi Yuuko. Tolong jangan lakukan itu...” Haruna memohon. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain itu. Tolonglah, Tuhan, batalkan rencana gadis ini. Ia tak boleh jadi pembunuh. Aku tak mau mati.

Tongkat bisbol itu berhenti mengetuk. Permukaan besi yang dingin menempel di pipi Haruna. Wajah Haruna merah padam. “Tidak. Tidak. Jangan. Tolong. Jangan...” ia meracau.

Mayu mengayunkan tongkat itu ke udara.

“Tolong, Watashima, berikan aku kesempatan. To... long...”

Tak bisa lagi tekad Mayu berubah. Tak ada interupsi. Tak ada permintaan terakhir.

Sayonara, Kojima-san. Sayonara.”

CRASH!

Padahal... padahal Haruna sudah berusaha. Memang gadis yang malang. Padahal buah semangka itu lebih besar dari kepalanya. Tapi Mayu sedang tak ingin makan semangka.

“Kakak, ‘kebencian’ itu telah musnah...”

To be next chapter